Terawan, Dokter yang Dimusuhi Gegara Cuci Otak dan Vaksin Nusantara

dr Terawan
dr Terawan
Bagikan :

JAKARTA – Kliktodaynews.com Presiden Jokowi mengangkat Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 dan menjadi salah satu anggota tim dokter kepresidenan.

dr Terawan sebagai menkes ini pernah mencuat karena kasus cuci otak untuk menyembuhkan pasien stroke — metode yang sebenarnya bernama Digital Substraction Angiography (DSA).

Mulai dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo hingga anggota DPR. Kebanyakan dari mereka merupakan pasien Terawan yang pernah melakukan terapi cuci otak yang kontroversi.

Dikatakan kontroversi lantaran Terawan bikin teori metode brain wash atau cuci otak bagi penderita stroke tanpa melakukan penilitian sebelumnya. Bahkan teori ini bikin Terawan dipecat dari keanggota Ikatan Dokter Indonesia atau IDI.

Terawan tak gentar, dia bahkan baru-baru ini mengagas vaksin nusantara. Lawannya bukan lagi IDI, melainkan BPOM. Lembaga yang dipimpin Penny K Lukito mengkritik keras uji klinis vaksin nusantara.

Menurut Penny, dalam evaluasi uji klinis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), komponen vaksin didatangkan dari Amerika Serikat (AS). Yakni dari AIVITA Biomedical Inc, perusahaan AS yang menyokong riset vaksin.

Baca Juga :  Implementation of Financial Inclusion in Indonesia during the Pandemic


Seperti diketahui, Vaksin Nusantara diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek pasien yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali. (VIVA.CO.ID/KTN)

Bagikan :