Cemas Biasa Atau Anxiety Disorder? Kenali Perbedaannya

Sri Astuti Purba ""Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat"".
Sri Astuti Purba ""Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat"".
Bagikan :

Pematangsiantar – Kliktodaynews.com Tidak dipungkiri bahwa setiap orang pernah merasakan kecemasan dalam kehidupan. Seperti dalam menghadapi situasi pandemi, wajar jika kita khawatir tertular atau cemas anggota keluarga akan terjangkit. Namun, apabila tubuh memberi respon yang berlebihan maka sudah memasuki tahap yang tidak normal. Sebab, bisa jadi mengalami penyakit gangguan kecemasan atau anxiety disorder.

Menurut National Institue of Mental Health, perempuan cenderung memiliki gangguan kecemasan daripada laki-laki. Namun, ungkapan ini tidak menutup kemungkinan laki-laki tidak mengalami gangguan kecemasan.

Selama merasa cemas, umumnya seseorang akan khawatir akan banyak hal, seperti masalah pertemanan, keluarga, hubungan bahkan kehidupan di masa depan secara berlebihan.

Pada cemas biasa, rasa khawatir bisa hilang jika pemicunya bisa teratasi. Misalnya, memiliki berat badan yang ideal merupakan hal yang sangat kamu inginkan. Namun, suatu saat kamu mengalami kenaikan berat badan. Sehingga, kamupun mengatasinya dengan program diet yaitu mengurangi porsi makanan. Dan rasa cemas hilang karena pemicunya dapat teratasi .

Berbeda dengan gangguan kecemasan. Jika kamu mengalami kenaikan berat badan, perasaanpun meluap-luap untuk segera melakukan diet ketat. Bertindak secara berlebihan seperti, sering menghindari makanan, menahan rasa lapar dan makan tidak teratur. Rasa meluap-luap ingin diet ketat inilah yang dinamakan gangguan kecemasan. Dimana rasa khawatir tetap ada dalam waktu yang lebih lama. Sehingga rasa cemas yang berlebihan akan berdampak bagi kesehatan baik secara mental maupun fisik,

Gejala yang ditimbulkan seperti sakit kepala, meningkatnya detak jantung, keringat dingin dan sulit tidur atau insomnia. Selain itu, ketika kita merasa cemas, pikiran kitapun terganggu sehingga tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Dampaknya, menimbulkan kurangnya percaya diri bahkan menunda atau meninggalkan pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Ketika memasuki tahap yang cukup parah, gangguan kecemasan bisa meningkatkan resiko terserang penyakit jantung sebagai dampak peningkatan jantung berdetak lebih cepat disertai peningkatan aliran darah.

Untuk menghindari resiko gangguan kecemasan kamu bisa melakukan beberapa upaya dalam mengantisipasinya. Seperti melakukan aktifitas fisik atau olahraga. Olahraga tidak harus dilakukanp dengan aktifitas berat seperti Gym. Kamu juga dapat melakukannya dengan berjalan santai di pekarangan rumah. Selain itu, berusaha untuk hidup sehat. Mengkonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, dan hindari alkohol dan narkoba. Kamu juga dapat menyibukkan diri dalam kegiatan yang menyenangkan, seperti melalukan hal-hal yang disukai. Dengan begitu tubuh dan pikiran menjadi sibuk dan tak punya waktu untuk mudah mencemaskan suatu hal.

Namun, jika gangguan kecemasan sudah sangat mengganggu kegiatan sehari-hari serta pengobatan mandiri juga tidak memberikan perubahan, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli professional.

Rasa cemas memang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari, karena kemunculannya tidak memandang apapun, kapanpun dan dimanapun. Tapi, kita harus pandai membatasi rasa cemas, agar tidak mengganggu aktifitas kita. Seperti ungkapan, Profesor Psikologi Klinis yaitu Daniel Freeman mengatakan, “Kita tidak bisa mencegah masalah hanya dengan merasa cemas. Pada akhirnya, yang terbaik adalah berkonsentrasi pada hal-hal yang berarti dalam hidup kita”. Dengan begitu kita dapat mengantisipasi rasa cemas dalam diri sehingga dapat hidup sehat secara mental mapun fisik.

– Stay Positif & Stay Healthy-

By : Sri Astuti Purba “”Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat””.

Bagikan :
Baca Juga :  Pasca Pulang Dari Padang dan Jakarta, Walikota Pematangsiantar ODP Covid-19