Sisi Gelap Bahasa Terhadap Keagamaan

Bagikan :

KLIKTODAYNEWS.COM|| Bahasa menurut Kridalaksana dan Djoko Kentjono adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Fungsi utama dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi antar manusia. Dengan adanya bahasa, wawasan maupun pandangan seseorang terhadap suatu objek tertentu tentu akan berbeda, apalagi bahasa yang memiliki berbagai macam jenis dan artinya masing-masing. Bahasa yang memiliki beragam jenis bahasa mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi.

Keagamaan saat ini ditantang oleh situasi, dimana terdapat dua pengaruh dari berbahasa, yaitu, pengaruh bahasa yang mengarah kepada hal baik dan pengaruh bahasa yang mengarah kepada hal yang buruk.

Cukup mudah untuk mengatakan bahwa seseorang dapat mengendalikan bahasanya ketika dapat mengendalikan pola pikir dan cara berbahasa, pemikiran ini tidak salah, namun pertanyaannya, bagaimana pandangan keagamaan terhadap bahasa yang semakin lama menjadi bahasa yang semakin tidak dapat dikendalikan?

Seseorang yang berpendidikan tinggi belum tentu dapat berbahasa ataupun berbicara dengan baik. Hal ini sangat lumrah kita temukan, dan dapat kita lihat perilaku pelaku terhadap orang lain sangat jelas mengganggu kerelasian antar masyarakat. Bukan hanya yang berpendidikan tinggi, seorang awam pun sangat mudah terkontaminasi bahasanya kketika berada di lingkungan yang tidak elok.

Baca Juga :  Sejarah Aliansi Jurnalis Independen

Keagamaan sangat diperlukan keselarasannya dalam berbahasa, agar dapat merubah pola pikir manusia dalam berbicara maupun berbahasa. Sikap berbahasa yang kurang sopan dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap agama. Hal ini terjadi ketika seorang yang ber-agama mempunyai tingkat berbahasa yang rendah, sehingga dapat mempengaruhi religio atau agama nya. Inilah yang menjadi tugas pelaku keagamaan, yang dapat mempengaruhi sebuah ruang lungkup yang besar, dan memberi bekal kepada banyak orang  bagaimana cara berbahasa yang baik dan benar menurut bahasa itu sendiri dan menurut keagamaan.

Seorang yang berpikir, dengan mudah menghubungkan antara berbahasa dan beragama, karena seorang yang beragama pasti memiliki tanggung jawab atau ketakutan ketika tidak dapat berbahasa dengan baik dan benar. Diluar konteks apakah orang tersebut hanya formalitas saja ataupun tidak. Bahasa yang buruk juga dapat mempengaruhi seseorang dalam beragama, sikap dan sifat seseorang dilihat bagaimana orang tersebut berbicara. Pengaruh buruk berbahasa ini lebih mengarah kepada pemuda/pemudi yang masih dalam proses pertumbuhan. Pengaruh internal dan eksternal dapat merubah pola pikir dalam bersikap terhadap orang lain, dan rasa gengsi serta pengaruh teknologi menjadi salah satu contoh berubahnya cara berbahasa, karena di zaman sekarang 50% pengaruh berubahnya cara berbahasa orang lain dipengaruhi oleh digital.  Pelaku agama sudah sepatutnya berpikir dan bertindak bagaimana cara dalam menyikapi dan merubah pandangan orang dalam berbahasa. Berbahasa yang baik haruslah ditumbuhkembangkan di era digital yang semakin maju. (**/KTN)

Bagikan :