Menurutnya, data yang akurat dan terkini menjadi kunci utama dalam mengusulkan program ke pemerintah pusat.
“Data perkebunan sebenarnya sudah ada, tetapi terakhir diperbarui pada tahun 2023 dan hingga kini belum di-update. Ke depan, saya membutuhkan data yang benar-benar valid, karena inilah yang akan kita bawa ke kementerian. Bagaimana kita bisa meminta program jika data kita sendiri belum terbaru,” tegasnya.
Ia mengakui, keterbatasan anggaran daerah saat ini menjadi tantangan tersendiri, termasuk untuk kegiatan pendataan yang membutuhkan biaya khusus.
“Pendataan ini sangat penting, namun belum bisa kita lakukan melalui APBD murni karena belum teranggarkan akibat keterbatasan keuangan daerah. Insyaallah akan saya upayakan masuk dalam anggaran perubahan,” kata Ishak.
Dengan kondisi tersebut, Dinas Perkebunan Way Kanan sementara ini akan memaksimalkan program yang sudah tersedia sembari terus berupaya menarik dukungan program dari pemerintah pusat.
“Saat ini kita maksimalkan dulu program yang ada. Insyaallah saya akan berusaha semaksimal mungkin menarik program pusat masuk ke Way Kanan. Kita fokus pada pengembangan seluruh sembilan komoditas perkebunan,” ujarnya.
Ishak menegaskan, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan petani perkebunan di Way Kanan, sejalan dengan visi pembangunan daerah.
“Harapan kita, melalui pembenahan data dan penguatan program, sektor perkebunan Way Kanan semakin mandiri dan mampu menyejahterakan petani, sejalan dengan slogan pembangunan Bupati Way Kanan, yaitu mandiri dan sejahtera,” tutupnya.
