Kondisi tersebut membuat bangunan rumah ibadah dan permukiman warga di sekitarnya berada dalam ancaman longsor.
Tumbur menambahkan, pihak gereja bersama masyarakat telah menyurati berbagai instansi, di antaranya UPTD PUPR Sibolga, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, DPRD Provinsi Sumatera Utara, Kementerian PUPR, serta Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah agar segera melakukan penanganan.
“Kami berharap pemerintah segera membangun kembali sheet pile atau pancang beton sekitar 300 meter hingga ke Jembatan Sibuluan agar tidak terjadi banjir bandang saat musim hujan,” katanya.
Ia juga mengingatkan, jika pembangunan tanggul tidak segera dilakukan, erosi akan semakin meluas. Selain itu, sedimentasi di sepanjang sungai menyebabkan pendangkalan yang memperbesar risiko luapan air.
Pendeta Tumbur menyebutkan, jemaat HKBP Sibuluan yang berjumlah sekitar 750 kepala keluarga bersama masyarakat sekitar sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah. Di lokasi tersebut juga terdapat pemakaman umum Muslim yang turut terancam jika erosi terus terjadi.
“Oleh karena itu, kami jemaat HKBP Sibuluan Distrik IX bersama masyarakat berharap pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah segera menindaklanjuti permohonan ini,” pungkasnya. (CP)
