Petani Sawit Di Tapteng Menjerit, Harga TBS Belum Stabil.

Bagikan :

Kliktodaynews.com, TAPTENG||
Harga buah TBS di tingkat Petani pada hari Selasa 7 Mei 2024 di Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah mengalami penurunan.

Musim hujan yang tidak menentu di awal bulan ini, membuat sejumlah Petani sawit mulai mengeluh.
Bukan saja dengan harga buah sawit, namun juga kelangkaan pupuk subsidi yang tidak jelas dimana mendapatkannya.

Hari ini harga sawit untuk Buah Tanda Segar di atas 5 kilo gram di hargai cuman 1.765 rupiah. Sementara di Pabrik Sawit di bandrol berkisar 2.100 rupiah/ kilogramnya.

Hal ini di jelaskan oleh salah satu agen Sawit “UD.Familiy Indah” Asa Waruwu di Pinangsori yang mengatakan penurunan harga ini sudah berlangsung tiga minggu belakang ini.

“Harga untuk brondolan saja sekarang cuma 2200 rupiah, sementara buah mengkal 900 rupiah, ini sudah mengalami beberapa kali penurunan dalam 3 Minggu terakhir ini”, kata Asa.

Dapot Aritonang juga mengeluhkan penurunan harga ini sangat berdampak pada pendapatan dan target perharinya untuk pembelian sawit di tempatnya.

“Biasa target perharinya lima ton, namun saat ini paling kita dapatkan dua ton, itu pun sudah sampai jam tujuh malam”, ujar Aritonang

Pajar Sibarani, salah satu Petani yang menjadi pelanggan penjual sawit pada agen ini juga mengeluhkan harga buah sawit yang turun tiap harinya, tanpa tau kapan naik lagi.

Hampir tiap hari turun, ada yang seratus rupiah, kadang dua ratus, kadang sampe lima ratus rupiah, tapi naiknya kita gak pernah tau kapan”, kata Sibarani

Sementara itu di lokasi terpisah daerah Desa Masundung Kecamatan Lumut, Togap Sihombing mengeluhkan turunnya harga buah sawit mengakibatkan biaya angkutan dan biaya panen tidak sesuai dengan penghasilan.

“Kalau kita yang lahannya jauh ini, biaya angkutan dan uang panen yang membuat kita mengalami kerugian dengan turunnya harga buah sawit ini. Kalau kita gak panen, buahnya bisa rusak. Dan kalau kita panen seperti saat ini, biaya operasionalnya kadang tidak tutup dengan hasil panennya”, ujar Togap.

Warga Lumut ini sangat berharap agar para pelaku usaha di bidang Sawit ini bisa menyesuaikan lah harga harga sawit itu. Sebab menurutnya harga di tingkat petani saat ini masih jauh dari yang di harapkan.

“Maunya para pengusaha itu bisalah menaikkan lagi harga buah sawit ini apalagi ini mau masuk anak sekolah, jadi kebutuhan kita juga makin banyak. Kalau harga seperti ini, gimana mau menyekolahkan anak anak? Kalau bisa di sampaikan biar normal harga sawit nya di dua ribu lima ratus per kilonya lah, kalau bisa harap nya(JN)

Bagikan :