Itu bukti kuat bahwa sumber air tersebut sangat potensial,” tambahnya.
Prins Walles menilai, selama ini PDAM Mual Nauli terlalu fokus mengambil air dari hulu sungai besar. Meski hal tersebut tidak keliru, namun menurutnya pemerintah kurang jeli melihat potensi sumber air jernih yang letaknya sangat strategis.
“Padahal jarak Bukit Batu Harimau hanya sekitar 500 meter dari pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Tengah,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan sumber air Bukit Batu Harimau dapat menjadi solusi krisis air bersih di Kota Pandan dengan biaya pembangunan yang relatif tidak terlalu tinggi.
“Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah seharusnya segera memanfaatkan potensi air ini sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,” imbuhnya.
Prins Walles mengenang, pada tahun 1994 dirinya bersama seorang pastor berkewarganegaraan Jerman, Pastor Kristian, pernah melakukan uji laboratorium terhadap air Bukit Batu Harimau di Hamburg, Jerman.
“Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas air tersebut sangat layak dikonsumsi manusia bahkan tanpa dimasak. Karena itu, saat itu Yayasan Katolik membebaskan sebagian kecil lahan di kawasan tersebut untuk ditanami pepohonan,” kenangnya.
Ia berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah tidak hanya mengelola, tetapi juga melestarikan kawasan Bukit Batu Harimau, terutama pasca bencana alam yang baru-baru ini terjadi di wilayah tersebut.
“Masyarakat juga memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian Bukit Batu Harimau. Jangan sampai kawasan ini digunduli karena dampaknya bisa sangat fatal di kemudian hari,” pungkas Prins Walles Tambunan.
