Cuaca Ekstrem Ancam Keselamatan Warga
Joneri menilai, kondisi cuaca ekstrem yang belakangan terjadi—ditandai hujan lebat, angin kencang, serta perubahan suhu drastis dalam waktu singkat—berpotensi memicu banjir dan tanah longsor susulan.
“Kita tidak bisa menganggap ini biasa. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat sangat membahayakan keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat,” ujarnya.
Ia juga meminta agar BBWS dan Dinas PUPR Provsu segera melakukan normalisasi sungai serta pembersihan sedimentasi di sepanjang bantaran sungai yang terdampak dua kali bencana besar tersebut.
Berdasarkan data yang disampaikan, bencana 25 November 2025 lalu menelan korban jiwa sebanyak 127 orang, dengan 37 orang dilaporkan belum ditemukan saat proses evakuasi.
Sejumlah Sungai Kritis
Adapun sungai yang disebut mengalami kerusakan parah dan rawan luapan antara lain:
Sungai Aek Tolang (Kecamatan Pandan)
Sungai Sihaporas (Kecamatan Sarudik)
Sungai Aek Sibundong (Kecamatan Sorkam)
Sungai Aek Sirahar (Kecamatan Barus)
Sungai Aek Harse (Kecamatan Tukka)
Sungai Aek Lopian (Kecamatan Badiri)
Sungai Aek Kolang (Kecamatan Kolang)
Menurut Joneri, tanpa pembangunan bronjong permanen dan normalisasi alur sungai, potensi korban jiwa dan kerugian material akan terus berulang.
“Kita melihat Bupati Tapteng sudah sangat bekerja keras memikirkan nasib warganya. Karena itu, kolaborasi lintas instansi harus segera diwujudkan agar tidak ada lagi korban akibat bencana susulan,” pungkasnya.
