Sempat Dinyatakan, Hilang, Pria Korban Pencopetan Malah Diteriakin Pencopet

Bagikan :

Medan-Kliktodaynews.com Awalnya Rabu 8 Mei 2019 Rommel Sitorus, selepas izin kantor berkunjung ke RSIA STELLA MARIS Medan melihat dan membawa kebutuhan anaknya yg baru lahir.

Selesai jenguk anaknya sekitar pukul 12. Siang Rommel Sitorus ingin segera kembali ke kantornya di Disperindag Serdang Bedagai dengan menaiki angkot koperasi 64 jurusan Amplas .

Didalam angkot sudah ada penumpang yg sudah duluan naik. Sehingga total 2 penumpang dan sopirnya. Selama didalam angkot ini si penumpang pertama selalu mendekat ke posisi korban duduk tapi rommel selalu menghindar, hingga mendekatinya perempatan lampu merah Jl. Juanda Medan, si penumpang itu tiba2 menjerit kehilangan uang dan menuduh korban mencopetnya dan teriak maling.

Seketika itu si sopir menghentikan angkotnya dan berdua dgn si penumpang lsg menggebukin korban sambil teriak2 maling copet sehingga massa berdatangan dan ikut menggebukin tanpa tau permasalahan sebenarnya. Pada saat massa berdatangan, sipenumpang dan sopir merogoh saku kanan celana korban dan mengambil uang 10jt dari dalamnya serta 1buah HP Android.

Dan tidak diketahui ada satu org dengan badan besar diduga petugas intel polisi membawa korban dengan sepeda motornya dengan memaksa dan membentak serta juga ingin merampas cincin dan dompet korban yang isinya uang 5jt serta buku tabungan bank Sumut. Tapi karena korban bersikukuh mempertahankannya dengan mengatakan nanti dikantor polisi saya serahkan, akhirnya si pengemudi sepeda motor tersebut membawa korban ke kantor Polsek Medan Kota Teladan.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Sumut Bertambah Jadi 202 Orang, 2 Pasien Baru Asal Simalungun


Sesampai dikantor Polsek tersebut, korban masih dianiya oleh para petugas Polsek dan para komploton copet tersebut, kemungkinan mereka sudah bersekongkol.

Banyak keanehan dari petugas Polsek Medan Kota Teladan yg menangani kasus ini, antara lain ungkap keluarga Korban Agus Sitorus :

1. Menganiaya adek saya yg tdk berdaya ketika sdh sampe di Polsek, serta tdk mau mendengar keterangan sebenarnya dari adek saya yg mengatakan bhw dia bukan pelaku, dia hanya di fitnah dituduh oleh para copet itu, adek saya meminta polisi utk mengecek ke RS Stella Maris menanyakan tentang apakah benar anaknya ada di rawat disana krn adek saya mmg benar habis dari sana menjenguk. Tetapi polisi malah membentak serta menimpuk kepala adek dgn helm. Serta berbagai makian dan penganiayaan lainnya.

2. Adek saya seorang ASN pd saat kejadian msh menggunakan seragam ASN Putih-Hitam, tetapi tidak berupaya menghubungi kantor tempat dimana adek saya dinas bahkan polisi tdk memberi kesempatan kpd adek saya utk menghubungi kantornya malah membentak dan memukuli adek saya bersama penumpang dan sopir angkot 64 tsb.

3. Pada saat adek saya dimasukkan ke sel secara paksa dgn menendang dan memukulinya dgn helm.

4. Laporan orang hilang yg kami buat di POLRESTABES MEDAN pd hari Kamis, 9 Mei 2019 pkl 19.40 wib dgn nomor: LI/33/V/2019/SPKT Restabes Medan, sama sekali tdk diinformasikan oleh pihak Polsek Medan Kota Teladan bhw nama orang hilang tersebut sesuai dgn ciri-ciri tsb dlm laporan sdg berada dlm tahanan Polsek Medan Kota Teladan yg telah ditahan sejak Rabu, 8 Mei 2019 pukul 13.30 wib.
Baca Juga :  Cek..Apakah Anda Termasuk Penerima Listrik PLN Gratis atau Discount? Ini Arti Kode R1, R1T, R1M, dan R1MT


5. Uang 10juta yg disita dari kantong adek saya, sebanyak 4jt dibagi-bagi oleh petugas polisi saat itu kpd si penumpang yg teriak copet/maling dan kpd Dia sopir angkot 64 tsb, dan sisanya dibagi-bagi oleh polisi yg menggebukin adek saya dikantor Polsek tsb. Aksi ini disaksikan lsg oleh adek saya bersama tahanan lain yg berjarak sekitar 5 meter dari dalam sel tahanan ke tempat polisi itu bagi-bagi uang. Sdgkn 6jt dijadikan sebagai barang bukti hasil copet adek saya yg pdhal 10jt tsb adlh uang adek saya sendiri yg rencananya digunakan utk biaya penebusan persalinan istrinya.

Masih banyak lagi keterangan adek saya tentang penganiayaan lain dari pihak Polsek Medan Kota Teladan yg membuat hati kami sangat pilu, sehingga kasus ini akan kami laporkan kembali ketingkat yang lebih tinggi hingga para polisi yg terlibat dalam penganiayaan adek kami harus mendapatkan tindakan pemecatan dari Kepolisian RI serta kami ingin membuktikan dugaan bahwa komploton copet teriak copet ini adalah sengaja dipelihara oleh para polisi yg terlibat bagi-bagi uang adek sy ke penumpang yg bertindak sbg pelapor dan si sopir bertindak sbg saksi dlm Surat Laporan mereka yg tertuang dalam BAP. (Mr.B).

Bagikan :