Tradisi Mangongkal Holi dalam Budaya Batak Toba diperhadapkan dengan Kekristenan

Bagikan :

SIANTAR – Kliktodaynews.com|| Kebudayaan ialah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan sekitarnya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Salah satu Unsur Kebudayaan adalah sistem religi dan upacara keagamaan.

Dalam kehidupan manusia budaya merupakan satu dasar yang penting. Budaya memiliki nilai, pola pikir, etika, kearifan, dan berinteraksi yang diikuti oleh manusia dan membentuk kepribadian mereka, baik secara personal maupun komunal.

Aspek kehidupan orang batak telah terisi oleh motif religius, meskipun dalam kenyataannya bisa saja terlihat sisi negatif dalam praktek beragamanya.

Proses internalisasi secara individual terhadap berbagai gejala sosial dan religius telah dapat melahirkan spiritualitas yang tinggi bagi orang batak. Itulah yang telah mereka upayakan di dalam karya seni dan budaya yang mereka praktekkan sehari-hari.

Tradisi “Mangokal Holi” dulunya berasal dari kultur Batak pra-Kristen yang menganggap hal itu perlu sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada orang tua atau leluhur yakni dengan meninggikan posisi tulang-belulang di atas tanah, khusunya di bukit yang tinggi dengan batu yang keras.

Baca Juga :  Pelaku Togel di Ringkus Polsek Siantar Utara dari Warung Kopi

Upacara Mangokal Holi yang artinya menggali kubur adalah salah satu upacara yang dianggap sakral bagi kehiduan masyarakat Batak Toba.

Upacara Mangokal Holi ini memiliki proses panjang mulai dari penggalian hingga pada proses pesta yang membutuhkan waktu sangat panjang hingga ber hari-hari lamanya.

Lamanya proses penggalian sampai acara pemestaan maka akan tenjalin kembali sistem kekerabatan dari generasi yang tertua sampai termuda.

Sejarah perjumpaan Kekristenan dengan upacara Mangongkal holi sejak tahun 1890, ketika jemaat Kristen semakin bertambah, mulai muncul masalah pertentangan ajaran Kristen dengan sisa-sisa peninggalan agama leluhur hasipelebeguan dikalangan orang Batak yang telah dikristenkan menjadi orang Kristen. Maka dari itu, gereja harus dapat membimbing dan mengarahkan orang Kristen untuk meninggalkan warisan kebudayaan religi lama yang bertentangan dengan ajaran Kristen.

Karena semua aspek hidup orang Batak telah terisi oleh motif-motif religious, meskipun dalam kenyataannya bisa saja terlihat sisi-sisi negative dalam praktek beragamanya.

Hal ini menjadi sumber persoalan pada masa antara tahun 1890 dan tahun 1942 ditanah batak gereja tidak seharusnya mempunyai rasa toleransi terhadap ajaran yang bertentangan dengan kekristenan pada masyarakat batak yang sudah dikristenkan.

Baca Juga :  Dicecar Pertanyaan Oleh Polisi, Andi Warga Simarito Akui Beli Sabu Dari Medan

Gereja harus memiliki kewaspadaan kepada jemaat bahwa ritual penguburan sekunder sewaktu-waktu dapat membuka kembali gerbang ke dunia pemujaan roh-roh leluhur.

Gereja HKBP ( Huria Kristen  Batak Protestan) yang pada awal abad ke 20 melarang segala bentuk acara adat, namun dalam Sinode tahun 1952 mulai menerima Mangongkal Holi  dengan beberapa persyaratan yaitu dihilangkannya prosesi mengiring tulang belulang ke kampung, ratapan keluarga, dan juga memberi makan tulang belulang dengan sirih pinang.

Penghilangan ritual tersebut dilakukan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen, khususnya tentang kehidupan setelah mati. (**/KTN)

 

 

 

Bagikan :