Medan – Genap satu tahun kepemimpinan Muhammad Bobby Afif Nasution dan H. Surya memimpin Provinsi Sumatera Utara sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto. Dalam kurun waktu tersebut, duet Bobby–Surya diuji berbagai bencana besar, namun tetap mampu menunjukkan kinerja cepat, terukur, dan berorientasi pada pemulihan masyarakat.
Gubernur termuda di Indonesia itu bukan kali pertama menghadapi situasi krisis. Saat menjabat Wali Kota Medan, Bobby Nasution memimpin di tengah pandemi Covid-19 dan mendorong UMKM naik kelas. Kini, sebagai Gubernur Sumatera Utara, ia kembali diuji bencana banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah pada November 2025—yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah dalam lima tahun terakhir.
Tak hanya turun langsung ke lokasi terdampak, Bobby juga mengambil langkah strategis untuk pemulihan jangka pendek dan panjang.
1. Rekomendasikan Penutupan Perusahaan Perusak Hutan
Banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 diduga berkaitan dengan kerusakan hutan dan lingkungan.
Menanggapi indikasi tersebut, Bobby Nasution merekomendasikan penutupan sejumlah perusahaan yang dinilai berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan, termasuk Toba Pulp Lestari.
Rekomendasi itu berujung pada keputusan pemerintah pusat yang resmi menghentikan operasional perusahaan bubur kertas tersebut pada 11 Desember 2025.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat.
2. Bangun 1.000 Hunian Tetap dan Sediakan Hunian Sementara
Pasca bencana, Pemprov Sumut bergerak cepat menyediakan hunian bagi warga terdampak.
