Kasus Penembakan Tewaskan Wartawan di Simalungun, Pangdam Ungkap Keterlibatan 4 Anggota TNI

Konferensi Pers di Kodam I/BB (Ahmad Arfah/detikcom)
Bagikan :

MEDAN – Kliktodaynews.com|| Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Hasanuddin mengungkap keterlibatan empat anggota TNI dalam kasus kematian Marshal Harahap yang terjadi pada (19/6/2021) lalu.

Empat tersangka yakni AS yang berperan sebagai eksekutor korban, sedangkan tersangka DE, PMP, dan LS berperan sebagai pembantu.

Pengungkapan berawal dari penangkapan Praka AS kemudian dilakukan pengembangan atas keterlibatan oknum-oknum anggota TNI lainnya sejumlah tiga orang. Di mana alirannya AS mendapatkan senjata api jenis pabrikan ini melalui oknum DE dengan transaksi uang Rp 15 juta,” kata Hasanuddin di Pomdam I/BB, Medan, Selasa (27/7/2021).

Hasanuddin mengatakan DE mendapatkan senjata dari oknum TNI lainnya berinisial PMP. Transaksi antara DE dan PMP ini dilakukan melalui perantara LS, yang juga oknum TNI.

“DE ini mendapat senpi dari PMP dengan transaksi uang 10 juta dengan perantara melalui LS,” ucapnya.

Dari tangan PMP, kata Hasanuddin, juga ditemukan sejumlah senjata api rakitan beserta peluru. Senjata api ini merupakan senjata ilegal.

“Maka dari itu, di belakang saya (tersangka) dari 1 menjadi 4. Pengembangan penyidikan ke penyalahgunaan senjata api dan amunisi ilegal,” tutur Hasanuddin.

Baca Juga :  Alumni USU Jabodetabek Gelar Konser Kebangsaan Medan Tunggal Ika

Atas perbuatannya, para tersangka dikenai pasal tentang penyalahgunaan senjata api. Para tersangka terancam hukuman mati.

“Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang penyalahgunaan senjata api dan amunisi. Ancaman hukuman adalah hukuman mati atau seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun,” jelasnya.

Sebelumnya, Praka AS telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Pomdam I/BB karena diduga terlibat dalam penembakan pemred di Sumut, Marsal. AS terancam 15 tahun penjara atas kasus ini.

Sumber : detik.com

Bagikan :