Kemenkes Pastikan Belum ada Laporan Kasus Cacar Monyet di Indonesia

Kemenkes pastikan RI belum 'kemasukan' cacar monyet (Foto: ABC Australia/detik)
Bagikan :

JAKARTA – Kliktodaynews.com|| Cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis. Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970.

Penularan melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan RI memastikan belum ada satupun kasus cacar monyet yang ditemukan di Indonesia.

Berdasarkan pemantauan sejak pertengahan Mei 2022, kasus suspek atau diduga cacar monyet lantaran mengeluhkan gejala serupa juga tidak ditemukan.

Menurut juru bicara Kemenkes RI Mohammad Syahril, nihilnya kasus cacar monyet bukan menjadi alasan untuk lengah dan tidak waspada.

“Belum ada kasus konfirmasi maupun suspek sampai saat ini. Tetapi semuanya wajib tetap waspada,” tuturnya dikutip detikcom Senin (6/6/2022).

Dilansir dari laman kemenkes.go.id, masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 sampai 16 hari tetapi dapat mencapai 5 sampai 21 hari. Fase awal gejala yang terjadi pada 1 sampai 3 hari yaitu demam tinggi, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas.

Baca Juga :  Pemerintah Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng Mulai 23 Mei 2022

Pada fase erupsi atau fase paling infeksius terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras  atau keropeng lalu rontok.

“Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok,” ucap dr. Syahril.

Upaya pencegahan untuk masyarakat, jika mengalami gejala demam dan ruam harap memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Masyarakat diimbau mematuhi protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

WHO menetapkan cacar monyet saat ini menjadi penyakit yang memerlukan perhatian masyarakat global, karena sebagian besar kasus dilaporkan dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemis.

“Sebagian kasus berhubungan dengan adanya keikutsertaan pada pertemuan besar yang dapat meningkatkan risiko kontak baik melalui lesi, cairan tubuh, droplet, dan benda yang terkontaminasi,” tutur dr. Syahril. (TIM/KTN)

Bagikan :